Estetika Perlawanan dalam Sastra dan Drama Indonesia
Gedung FITK, BERITA FITK Online—Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Pada hari Rabu, 15 April 2026, telah dilaksanakan kegiatan Seminar Nasional dengan tema “Estetika Perlawanan dalam Sastra dan Drama Indonesia”. Seminar yang diprakarsai oleh Pestarama #10+1 PBSI UIN Jakarta ini menghadirkan 3 pemateri. Ketiga pemateri menyampaikan pandangan mengenai naskah drama, praktik teater, serta estetika perlawanan dalam sastra dan drama Indonesia.

Pemateri pertama, Esha Tegar Putra, M.Hum., membahas mengenai pentingnya naskah drama dalam perkembangan dunia teater. Beliau menjelaskan bahwa upaya menerjemahkan naskah-naskah asing perlu dilakukan untuk memperkaya khazanah drama di Indonesia. Ia juga menyampaikan bahwa pada masa tertentu terdapat anggapan keliru bahwa pelaku teater tidak memerlukan naskah drama dalam pertunjukan. Namun, pandangan tersebut kini mulai berubah. Naskah drama dipahami sebagai unsur penting dalam proses kreatif teater.
“Naskah drama dapat menjadi media kritik terhadap fenomena bangsa dan negara. Melalui naskah, berbagai persoalan sosial dapat disampaikan secara metaforis,” ungkap sastrawan kelahiran Solok ini. Menurutnya, proses pementasan teater selalu diawali dengan pemikiran, pembacaan, dan pengkajian naskah. Hal tersebut menunjukkan bahwa teater dan sastra memiliki hubungan yang sangat erat. Oleh karena itu, diskusi mengenai naskah drama perlu dilakukan secara intensif agar menghasilkan pertunjukan yang berkualitas.
Pemateri kedua, Bambang Pribadi, S.Hum. selaku Ketua Dewan Kesenian Jakarta membicarakan mengenai praktik naskah drama dalam dunia teater. Ia menceritakan pengalamannya semasa sekolah, ketika terdapat ruang ekspresi bagi siswa untuk menyampaikan kritik dan aspirasi melalui seni. “Teater merupakan bagian dari kebutuhan masyarakat yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sosial. Melalui teater, masyarakat dapat menyampaikan kritik, gagasan, dan refleksi terhadap berbagai persoalan,” ungkap sutradara Lab Teater Ciputat ini.
Bambang Prihadi menambahkan bahwa sebelumnya pemerintah sempat merasa khawatir terhadap perkembangan teater karena teater dianggap mampu membangkitkan kesadaran masyarakat. Oleh sebab itu, sejarah mencatat bahwa pelaku seni teater sering berada dalam tekanan kekuasaan.
Dalam pemaparannya, ia juga menampilkan berbagai dokumentasi pertunjukan teater dari berbagai periode. Beberapa pertunjukan mengangkat tema masa Orde Baru, tragedi tahun 1998, perjalanan budaya dari Jakarta ke Badui, isu kerusakan lingkungan, adaptasi novel, perjuangan generasi muda, serta perlawanan terhadap perusakan hutan.

Bambang menegaskan bahwa perbedaan naskah drama dahulu dan sekarang terletak pada proses penciptaannya. Jika dahulu naskah sering dibuat sebelum pertunjukan, kini dalam beberapa praktik teater modern naskah justru dapat lahir setelah proses latihan dan pementasan, sehingga menjadi karya akhir dari proses kolektif.
Pemateri ketiga, Maria Ulfa, M.A., M.Hum. menjelaskan bahwa karya sastra sering dipandang hanya sebagai art for art atau seni untuk keindahan semata. Namun, pada kenyataannya sastra juga dapat berfungsi sebagai media pendidikan, penyadaran, dan perlawanan terhadap ketidakadilan.
Puisi, drama, dan prosa memiliki unsur-unsur estetika seperti bahasa, simbol, tokoh, struktur, dialog, serta pementasan yang dapat digunakan untuk menyampaikan kritik sosial. Dengan demikian, estetika tidak hanya berkaitan dengan keindahan, tetapi juga strategi artistik untuk membangun makna, emosi, dan kesadaran masyarakat.
Dosen Bahasa dan Sastra Inggris ini menambahkan bahwa, “perlawanan dalam karya sastra dan drama merupakan sikap kritis terhadap dominasi, kekerasan, hegemoni, dan ketidakadilan”. Bentuk perlawanan tersebut sering disampaikan secara simbolik. Estetika perlawanan ini terus berkembang sesuai konteks sosial-politik.

Saat ini, isu yang diangkat semakin beragam, seperti intoleransi, radikalisme, gender, lingkungan, marginalitas wilayah, dan trauma sejarah. Ia menegaskan bahwa estetika perlawanan penting untuk melawan lupa terhadap sejarah, membangun empati sosial, mendidik publik secara kritis, serta menjadikan seni sebagai ruang demokrasi alternatif bagi masyarakat.
Kegiatan seminar ini memberikan pemahaman bahwa sastra dan drama bukan hanya sarana hiburan, tetapi juga media pendidikan, kritik sosial, dan perlawanan terhadap ketidakadilan. Melalui seminar ini, peserta diharapkan semakin memahami pentingnya naskah drama, praktik teater, serta peran seni dalam membangun kesadaran masyarakat. (red. H, PBSI)