FISIP UIN Bandung Kunjungi FITK UIN Jakarta, Pelajari Pengembangan Program Tahsin dan Tahfiz Al-Qur’an
FISIP UIN Bandung Kunjungi FITK UIN Jakarta, Pelajari Pengembangan Program Tahsin dan Tahfiz Al-Qur’an
Gedung FITK, BERITA FITK Online—Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Sunan Gunung Djati Bandung melakukan kunjungan akademik ke Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Senin (24/8/2026). Kunjungan tersebut menjadi momentum berbagi pengalaman dan praktik baik dalam pengembangan program Tahsin dan Tahfiz Al-Qur’an bagi mahasiswa.

Rombongan FISIP UIN Sunan Gunung Djati Bandung dipimpin Prof. Dr. Adon Nasrullah Jamaluddin, M.Ag., bersama jajaran pimpinan dan sivitas akademika FISIP. Kedatangan rombongan disambut jajaran FITK UIN Jakarta, di antaranya Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum Dr. Yudhi Munadi, S.Ag., M.Ag. Kaprodi PAI Prof. Dr. Suwendi, M.Ag. serta tim pengelola program Tahsin dan Tahfiz Al-Qur’an.
Dalam sambutannya, Yudhi Munadi menyampaikan apresiasi atas kunjungan FISIP UIN Bandung ke FITK UIN Jakarta. Menurutnya, kunjungan tersebut menunjukkan adanya perhatian serius terhadap penguatan kemampuan membaca dan menghafal Al-Qur’an di kalangan mahasiswa, termasuk mahasiswa fakultas umum.
“Saya melihat ini luar biasa, bahwa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik mempunyai perhatian yang sangat luar biasa terhadap program Tahsin dan Tahfiz Al-Qur’an,” ujar Yudhi Munadi.
Ia menjelaskan, persoalan kemampuan membaca Al-Qur’an tidak hanya ditemukan pada mahasiswa fakultas umum, tetapi juga menjadi perhatian di lingkungan FITK. Kondisi tersebut mendorong perlunya sistem pembinaan yang terstruktur, berkelanjutan, dan mampu menyesuaikan dengan kemampuan awal mahasiswa.
Yudhi juga mengungkapkan bahwa pengembangan program pembinaan Al-Qur’an sebenarnya telah menjadi perhatian di FITK sejak beberapa waktu lalu. Ia mencontohkan program Praktik Ibadah dan Kiroah yang pernah dikembangkan ketika dirinya terlibat dalam pengelolaan laboratorium.
“Dulu waktu saya menjadi kepala lab, saya membuat program PIKI, Praktik Ibadah dan Kiroah. Saya juga menargetkan satu juz hafal, yaitu juz 30, dan beberapa hadis, terutama hadis pendidikan,” jelasnya.
Menurut Dr. Yudhi, salah satu keunggulan pembinaan melalui program semacam ini adalah fleksibilitas waktu dan proses pendampingannya. Pembinaan tidak semata-mata ditempatkan sebagai mata kuliah yang memiliki batasan waktu per semester, tetapi dapat berlangsung lintas semester sampai mahasiswa benar-benar mencapai kompetensi yang ditargetkan.
Belajar dari Program USTAD FITK
Dalam kunjungan tersebut, tim FITK memaparkan pengembangan program USTAD yang merupakan unit sertifikasi yang mencakup Tahsin, Tahfiz, praktik ibadah, serta Tajhizul Janaiz. Program tersebut dikembangkan untuk meningkatkan kompetensi keagamaan mahasiswa secara bertahap dan terukur.

Dr. Drs. Abdul Roayid, M.Pd. dalam pemaparannya menjelaskan bahwa program pembinaan tidak hanya berorientasi pada kemampuan menghafal, tetapi juga memperhatikan kualitas bacaan, tajwid, makhraj, pemahaman ayat, hingga kemampuan mahasiswa untuk nantinya mengajarkan kembali pengetahuan tersebut kepada peserta didik.
Program diawali dengan pemetaan kemampuan mahasiswa. Berdasarkan pemetaan terhadap mahasiswa PAI, ditemukan adanya mahasiswa dengan kemampuan membaca dan menghafal Al-Qur’an yang masih perlu mendapatkan pendampingan intensif. Dari kondisi tersebut kemudian dikembangkan pola pembinaan yang mencakup pemetaan, pembimbingan, pendampingan, remedial, hingga sertifikasi kompetensi.
“Dosen pembimbing menetapkan standar bacaan, menguji capaian utama, membina tutor, dan memutuskan lulus,” demikian salah satu prinsip pengelolaan program yang disampaikan dalam pemaparan tim FITK.
Menariknya, program tersebut juga mengembangkan pola tutor sebaya. Mahasiswa yang memiliki kemampuan hafalan lebih tinggi dapat membantu mahasiswa lainnya melalui kegiatan murojaah. Pola ini menjadi salah satu strategi untuk memperluas jangkauan pendampingan di tengah keterbatasan jumlah dosen dibandingkan jumlah mahasiswa.
FISIP UIN Bandung Ingin Mengadopsi Praktik Baik
Kunjungan FISIP UIN Bandung dilakukan karena fakultas tersebut tengah berupaya memperbarui dan memperkuat program Tahsin dan Tahfiz bagi mahasiswa. Sebagai salah satu fakultas yang memiliki karakteristik mahasiswa dengan latar belakang pendidikan yang beragam, FISIP UIN Bandung menghadapi tantangan dalam memastikan kemampuan dasar Al-Qur’an mahasiswa.
Dalam pemaparannya, perwakilan FISIP UIN Bandung menjelaskan bahwa sekitar 60 persen mahasiswa berasal dari latar belakang SMA, SMK, dan sederajat, sehingga tidak seluruh mahasiswa memiliki pengalaman pendidikan pesantren atau pembelajaran Al-Qur’an yang intensif. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan penting dilakukannya studi banding ke FITK UIN Jakarta.
FISIP UIN Bandung saat ini telah mengembangkan pembinaan secara bertahap melalui praktikum ibadah, tilawah, dan Tahsin yang bermuara pada pelaksanaan Tahfiz. Sistem tersebut juga diarahkan untuk tidak membebani mahasiswa, antara lain dengan membagi tahapan pembinaan sesuai kemampuan masing-masing.
Karena itu, pengalaman FITK UIN Jakarta dalam membangun sistem pemetaan, pendampingan, murojaah, remedial, tutor sebaya, hingga sertifikasi menjadi bahan pembelajaran penting bagi FISIP UIN Bandung.
Sinergi Penguatan Pendidikan Al-Qur’an
Kunjungan tersebut tidak hanya menjadi forum berbagi program, tetapi juga membuka peluang terbangunnya sinergi antarfakultas dan antarperguruan tinggi keagamaan Islam dalam memperkuat pendidikan Al-Qur’an.
Yudhi Munadi berharap pertemuan tersebut dapat menjadi ruang saling belajar bagi kedua institusi.
“Mudah-mudahan nanti bisa menjadi pembelajaran buat kita semua, saling memperbaiki. Mungkin nanti kita berbagi,” ungkapnya.
Ia menilai pengalaman FISIP UIN Bandung dalam mengembangkan pembinaan Tahsin dan Tahfiz juga dapat menjadi inspirasi bagi FITK. Sebaliknya, sistem USTAD yang baru dikembangkan FITK dapat menjadi salah satu referensi bagi FISIP UIN Bandung dalam memperkuat program pembinaan mahasiswa.
Program yang dikembangkan FITK sendiri menempatkan teknologi sebagai pendukung proses pembelajaran, bukan pengganti proses talaqqi. Pendampingan langsung bersama dosen dan pembimbing tetap menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas bacaan dan hafalan mahasiswa.
Melalui kunjungan tersebut, FITK UIN Jakarta dan FISIP UIN Sunan Gunung Djati Bandung diharapkan dapat terus memperkuat komunikasi dan pertukaran praktik baik, khususnya dalam membangun model pembinaan Al-Qur’an yang adaptif, terukur, dan berkelanjutan.
Bagi FITK, penguatan Tahsin dan Tahfiz bukan sekadar pencapaian hafalan, tetapi bagian dari upaya menyiapkan calon guru dan pendidik yang memiliki kompetensi keagamaan sekaligus kemampuan pedagogis yang baik. Sementara bagi FISIP UIN Bandung, studi banding ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat pembinaan Al-Qur’an di lingkungan fakultas yang memiliki mahasiswa dengan latar belakang pendidikan yang beragam.(AM)
