PBSI UIN Jakarta Gelar Kuliah Umum Sosiolinguistik Hadirkan Akademisi Freie Universität Berlin
PBSI UIN Jakarta Gelar Kuliah Umum Sosiolinguistik Hadirkan Akademisi Freie Universität Berlin
Gedung FITK, BERITA FITK Online— JAKARTA — Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar kuliah umum bertema “Sosiolinguistik: Pengantar, Perkembangan, dan Tren Penelitian Masa Kini” pada Jumat, 13 Maret 2026. Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui Zoom dan disiarkan langsung melalui YouTube sehingga dapat diikuti oleh peserta dari berbagai daerah.
Kuliah umum tersebut menghadirkan Boy Tri Rizky, M.A., akademisi sekaligus kandidat doktor bidang sosiolinguistik di Freie Universität Berlin, Jerman. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa dan dosen PBSI UIN Jakarta serta peserta dari berbagai perguruan tinggi, antara lain Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), dan sejumlah kampus lainnya yang memiliki minat terhadap kajian bahasa dan linguistik.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Dekan I FITK Dr. Yanti Herlanti, M.Pd., dosen pengampu mata kuliah Sosiolinguistik Dr. Nuryani, M.A., serta Ketua Program Studi PBSI UIN Jakarta Dr. Ahmad Bahtiar, M.Hum.
Mengawali kegiatan, Dr. Nuryani menyampaikan pengantar perkuliahan sosiolinguistik yang menekankan pentingnya memahami bahasa dalam konteks sosial masyarakat. Menurutnya, sosiolinguistik tidak hanya membahas struktur bahasa, tetapi juga menelaah bagaimana bahasa berinteraksi dengan faktor sosial, budaya, dan identitas dalam kehidupan sehari-hari.
Ia juga menyampaikan harapannya agar kegiatan akademik seperti kuliah umum ini dapat berlanjut melalui kolaborasi penelitian di masa mendatang. Dr. Nuryani berharap Boy Tri Rizky dapat kembali berbagi hasil penelitian yang sedang dilakukannya kepada civitas akademika PBSI setelah penelitian tersebut selesai.

“Kami berharap setelah penelitian yang sedang dilakukan selesai, Boy dapat kembali hadir di PBSI untuk berbagi hasil risetnya kepada mahasiswa dan dosen di sini,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, Boy Tri Rizky menegaskan bahwa bahasa tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sosial masyarakat. Bahasa, menurutnya, tidak sekadar alat komunikasi, tetapi juga mencerminkan identitas sosial, nilai budaya, serta relasi kekuasaan dalam masyarakat.
Ia mencontohkan Indonesia sebagai negara dengan keragaman bahasa yang sangat tinggi. Dengan ratusan bahasa daerah yang hidup di berbagai wilayah, dinamika bahasa di Indonesia dipengaruhi oleh sejarah kolonialisme, kebijakan pendidikan, hingga perubahan sosial dan politik.
“Bahasa dan masyarakat saling membentuk. Bahasa lahir dari kehidupan sosial, tetapi pada saat yang sama juga memengaruhi cara masyarakat memahami dunia,” jelasnya.
Dalam kuliah tersebut, Boy juga memaparkan konsep politik bahasa dan perencanaan bahasa (language planning), yang meliputi perencanaan status bahasa, perencanaan pemerolehan bahasa, serta perencanaan korpus bahasa. Ketiga aspek tersebut berperan penting dalam menentukan posisi berbagai bahasa dalam kehidupan publik, pendidikan, maupun kebijakan negara.

Selain itu, ia menyoroti kajian sikap bahasa (language attitudes) yang mencerminkan pandangan dan perilaku masyarakat terhadap suatu bahasa. Dalam konteks pendidikan bahasa Indonesia, calon guru memiliki peran strategis dalam membangun sikap positif terhadap bahasa Indonesia di tengah masyarakat.
“Calon guru bahasa Indonesia bukan hanya mengajarkan tata bahasa atau keterampilan berbahasa, tetapi juga menjadi ideologies broker, yakni perantara yang menyampaikan nilai dan ideologi bahasa kepada peserta didik,” ujarnya.

Ketua Program Studi PBSI UIN Jakarta, Dr. Ahmad Bahtiar, M.Hum., dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan kuliah umum ini merupakan bagian dari upaya memperkuat tradisi akademik di lingkungan PBSI. Ia menyebutkan bahwa dalam satu pekan PBSI bahkan mampu menyelenggarakan dua kuliah umum.
“Sebelum kegiatan ini, PBSI telah menyelenggarakan kuliah umum tentang Sejarah Sastra Indonesia Modern. Hal ini menunjukkan bahwa PBSI merupakan program studi yang dinamis dalam menghadirkan ruang akademik bagi mahasiswa, baik dalam bidang linguistik maupun sastra,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kajian linguistik di PBSI UIN Jakarta berkembang melalui konsorsium keilmuan yang cukup mapan dengan berbagai mata kuliah linguistik, baik yang bersifat wajib maupun pilihan. Kekuatan akademik tersebut juga didukung oleh kualitas sumber daya dosen.
“Hampir seluruh dosen linguistik telah bergelar doktor dan menduduki jabatan lektor kepala dengan kepakaran yang beragam. Bahkan beberapa di antaranya dikenal sebagai pakar di bidang tertentu, seperti linguistik forensik,” katanya.

Boy Tri Rizky sendiri merupakan akademisi muda yang aktif meneliti bidang sosiolinguistik, multilingualisme, dan komunikasi lintas budaya. Ia menyelesaikan studi Magister Kajian Bahasa Jerman Lintas Budaya di Georg-August-Universität Göttingen melalui beasiswa LPDP dan saat ini menempuh studi doktoral di Freie Universität Berlin dengan dukungan beasiswa Friedrich-Ebert-Stiftung. Selain aktif meneliti, ia juga mengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Rumah Budaya Indonesia Berlin serta terlibat dalam berbagai kegiatan akademik internasional di bidang linguistik.
Kuliah umum berlangsung interaktif dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang dimoderatori oleh Raissa Adristi Salma dan dipandu oleh pewara Nasywa Zahiyah. Berbagai pertanyaan muncul dari peserta, mulai dari isu kebijakan bahasa di Indonesia hingga tantangan pelestarian bahasa daerah di tengah arus globalisasi.
Melalui kegiatan ini, PBSI UIN Jakarta berharap mahasiswa semakin memahami dinamika bahasa dalam masyarakat sekaligus terdorong untuk mengembangkan penelitian-penelitian baru dalam bidang sosiolinguistik dan pendidikan bahasa Indonesia. Kuliah umum ini juga diharapkan dapat memperkuat jejaring akademik antarperguruan tinggi dalam pengembangan kajian bahasa dan sastra Indonesia. (red. Fapa)
